Sejenak
berhenti dari perjalanan untuk melupakan dan mencoba mengukur jejak langkah
yang telah dilalui. Dengan segala keterbatasan, berusaha bangkit dalam rentang
waktu yang terus berproses. Dari segala arah, Saya melihat dan mengizinkan hati
untuk memahami yang telah terjadi. Menggali lebih dalam lagi, demi sebuah
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terkesan bodoh dan munafik. Berusaha
jujur terhadap diri sendiri, mungkin lebih mulia dari pada memendam rasa atas
kecewa yang terus menari dalam ketidak pastian. Kuakui bahwa Saya tak setegar
kata yang terus terucap, namun berada dalam posisi ini mewajibkan Saya untuk
bertahan dalam diam dan membiarkan waktu berhenti atas kehendak yang mustahil
untuk dilakukan. Biarkan semua berlalu seperti masa yang telah hilang dalam
alur cerita yang menyisakan pedih antara Aku dan Kamu. Seribu kata cinta yang
pernah terucap olehmu, mungkin hanya akan menjadi bait-bait puisi tak berjudul
yang nantinya akan kurangkai disetiap denyutan nadi dan debaran jantung. Olehnya
itu, kupasrahkan diri ini untuk menjadikanmu sebagai MASA LALU dari cinta yang
terhempas oleh butiran-butiran sikap yang tidak konsisten seperti angin yang
berhembus dalam ruang dan waktu yang berbeda. -hr-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar