Sabtu, 25 Maret 2017

Kamuflase Pelangi Yang Tertawan Rasa

Di senja yang mulai ranum, Kamu menyapaku melalui akun messenger milikmu. Diawali dengan percakapan basa-basi yang selanjutnya memintaku untuk membuatkanmu puisi tentang pelangi yang tak kunjung datang setelah bumi ini terpatri oleh butir-butir hujan yang selalu datang bersama dengan perasaan rindu. Permintaanmu itu bukanlah hal yang sulit bagiku, bukan juga karena Aku tidak mau mengabulkan permintaanmu. Akan tetapi, untuk saat ini Aku tidak tertarik menorehkan penaku untuk memuja pelangi yang bagiku hanyalah kamuflase keindahan yang bersifat sesaat. Karena ada yang lebih penting dari itu semua, sesuatu hal yang mungkin tidak pernah Kamu sadari selama ini. Ya... Sesuatu hal yang merupakan hal tergila yang pernah ada dalam kehidupanku. AKU MERINDUKANMU. Inilah hal tergila yang Aku maksudkan. Sementara Kamu sibuk dan terus mencari pelangi itu, Aku juga disbukkan dengan perasaan rindu ini terhadap dirimu. Mungkin bagimu hal ini tidaklah lebih penting dari pelangi yang Kamu cari, tapi bagiku rasa ini tidak akan pernah sebanding dengan pelangimu. Banyak hal yang Aku rindukan darimu, dan semuanya itu hanya bisa terkubur dalam lubang penantian tegur sapa yang jika dicerna telah melampaui batas waktu dan logikaku sendiri. Sekian lama rasa ini terpendam, namun tak pernah mampu hilang dalam rentetan-rentetan bom waktu yang meledak setiap saat. Pernah kumencoba untuk menghilangkannya, namun rasa ini justru semakin memberontak menguasai permukaan yang gersang. Hingga akhirnya Kamu muncul dalam bentuk abstrak di setiap hariku. 

Kamu masih disibukkan dengan pelangi tanpa secuilpun Kamu milirik tentang rasaku. Kamu berpikir dapat melihat pelangi disetiap penghujung hujan, ternyata tidak. Menurutmu, bukannya pelangi tidak ingin menampakkan keindahannya tapi pelangi tidak dapat melawan senja yang dikuasai oleh kegelapan. Namun bagiku, pelangi yang Kamu nantikan memang tak selamanya muncul di penghujung hujan. Seperti kali ini, pelangi tak akan muncul karena tertawan oleh rasaku yang telah membuncah dalam setiap rentang patamorgana kehidupan. Menelesuri setiap jengkal kehidupanmu yang semakin menggila dalam bayang semu yang menjadi sahabat sejatiku. Aku tak pernah menuntutmu untuk membalas setiap rasa yang kumuliki karena tanpa Kamu minta hal tersebut telah Aku sadari sejak pertama kali mengenalmu. Semua rasa tentang dirimu, merupakan ketidak mungkinanan dan kemustahilan bagiku untuk mendapatkan serbersit bongkahan hatimu, bahkan yang terkecil sekalipun. Namun, jangan pernah melarangku tentang rasa ini, karena itu sama saja Kamu membunuhku secara perlahan. Biarkan rasa ini terus bertahta dalam singgasana yang tersembunyi hingga waktu menjemputku. Aku hanya ingin Kamu tahu dan menyadari akan rasaku ini tanpa harus merubah sedikitmu alur cerita kehidupanmu. Biarkan Aku berimajinasi dalam bahtera cintamu yang tak akan pernah Aku rasakan. AKU MENCINTAIMU LEBIH DARI YANG KAMU TAHU.

-hr-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar